“Kok orang itu gendut?”
“Kok dia tidak punya kaki?”
“Kok tidak semua perempuan pake jilbab?”

Pernah ditanya anak seperti itu? Apa jawabannya?

Dengan berbagai pengalaman dan kisah intoleransi di Indonesia, muncul PR parenting yang jadi urgent: Anak-anak itu harus diajari soal perbedaan dan jangan biarkan mereka belajar sendiri dari lingkungan. Iya kalau lingkungannya toleran, kalau nggak?


Terutama untuk anak yang tinggal di lingkungan homogen, mereka biasanya kaget jika melihat orang yang berbeda dari orang yang biasa mereka temui sehari hari.

Karena sejak kecil, anak tuh biasanya mengobservasi segala hal dan itu bisa jadi kesempatan kita untuk mengajari anak tentang toleransi serta perbedaan.

Contoh, ketika anak mempertanyakan agama, warna kulit, warna rambut, bentuk tubuh, atau merasa penasaran pada anak difabel, kita bisa menjawab dengan tenang:

“Orang kan berbeda-beda, beda itu tidak apa-apa”

Kalau pertanyaannya berupa pilihan seperti pakaian atau agama, maka ditambahkan jawaban:

“Semua orang bebas memilih ingin jadi orang seperti apa”

Tapi garis bawahi ya, jawaban perbedaan ini untuk hal-hal yang tidak melanggar hukum, peraturan, atau sopan santun.

Kalau anak bertanya “kok orang itu tidak pakai helm sih?” ya jangan dijawab karena orang berbeda.

Lebih bijak untuk jawab “iya dia tidak baik ya, naik motor tidak pakai helm kan tidak baik. Ayah orang baik, ibu orang baik, kamu anak baik, maka jangan tiru yang tidak baik ya!”

Jadi mengajari perbedaan pun memang prinsip utamanya tetap mengacu pada baik dan tidak baik. Kita boleh berbeda karena semua manusia itu unik tapi kita harus selalu berusaha jadi orang baik.

Gimana kamu mengajarkan perbedaan pada anak?

Miliki buku Berbeda Itu Tak Apa dengan KLIK DI SINI!

Leave a Reply

Your email address will not be published.