terjemahan dari artikel: Local Innovators Series: An educational haven in the face of the pandemic

ditulis oleh Grace Chandra Steven, mantan Head of Marketing Wall Street Institute

Wedang Uwuh, minuman rempah tradisional Jawa

Semuanya berawal dari sebuah kiriman di laman beranda Instagram saat saya sedang mengisap segelas Wedang Uwuh yang menenangkan dan ditemani kerupuk udang yang renyah.

Entah karena ilustrasinya yang sangat memukau atau topik pluralisme yang diangkatnya, tetapi yang jelas kiriman tersebut menyedot perhatian dan membawa saya membuka akun @littlequokka.id. Semakin ke bawah saya menelusuri, semakin saya tertarik dengan penemuan langka ini.

Ada sebuah buku tentang rempah Indonesia dan satu lagi tentang jajanan Indonesia. Menurut saya ini adalah oasis pengetahuan yang sangat memukau. Sungguh cara yang sangat indah untuk memperkenalkan budaya Indonesia.

Touch and Feel untuk menstimulasi sensorik, menarik dan menggembirakan si kecil.

Saya pun merasa harus menghubungi penggagasnya dan mencari tahu lebih dalam tentang mereka. Berikut cuplikan obrolan saya dengan Reevi dari Little Quokka.

Saya sangat amat suka dengan buku-buku terbitan kalian! Bisa ceritakan sedikit bagaimana awal terbentuknya Little Quokka?


Ceritanya lucu. Sebenarnya kami tidak pernah berpikir akan membuat sebuah penerbitan. Semuanya berawal tahun lalu, tepatnya saat lockdown pertama karena pandemi COVID.

Saya baru saja mengundurkan diri dari pekerjaan di sebuah penerbitan besar, dan semua anggota keluarga kami berkumpul di rumah karena lockdown.

Berhenti dari rutinitas yang melelahkan karena harus menempuh perjalanan lintas kota untuk bekerja adalah perubahan yang sangat menyegarkan, memungkinkan saya berkumpul dengan anggota keluarga. Momentum itu kami manfaatkan dengan maksimal, bermain dan berkebun dengan anak-anak.

Ide untuk menyusun buku kami yang pertama, Willa dan Rempah Kesayangan Ibu, muncul saat kami menghabiskan waktu bersama melakukan hobi baru, berkebun dan memasak. Kebingungan dalam membedakan jenis-jenis bumbu membuat saya tersadar bahwa kita membutuhkan materi pembelajaran tentang bumbu. Sebagai karya yang lahir dari keingintahuan saya, buku pertama kami dikerjakan oleh kami bertiga saja–istri saya, seorang kawan ilustratornya, dan saya sendiri.

Kami hanya berpikir akan menyenangkan memperkenalkan anak-anak pada berbagai jenis rempah-rempah.

Community Verified icon

Karena biaya penerbitan buku bisa memakan jumlah yang banyak, kami pun memutuskan untuk membuka pra-pesan agar bisa mengatur keuangan. Ternyata di luar ekspektasi, kami mendapatkan respon yang luar biasa dari para pembaca.

Apa yang unik dari produk Little Quokka?

Sejujurnya, kami belum tahu. Kami belum pernah melakukan riset pemasaran. Namun saya pikir keunikannya terdapat pada isinya. Sepertinya belum banyak buku yang fokus membahas tentang bumbu-bumbu lokal. Pratya mengerjakan ilustrasinya dengan luar biasa. Ia benar-benar mampu menerjemahkan petunjuk dari kami yang sangat umum.

Siapa tokoh atau referensi yang menginspirasi buku-buku yang Anda terbitkan?

Begitu banyak karya lain yang mempengaruhi gaya kami. Kami suka pergi ke pameran buku, dan dengan mengoleksi buku untuk anak-anak akhirnya kami tahu jenis dan tema buku seperti apa yang dibutuhkan.

Apa tantangan dalam membuat materi pembelajaran untuk anak Indonesia?

Tantangannya menurut saya adalah aturan tentang kepantasan buku anak, yang seringkali mencegah kreator untuk bereksplorasi secara “liar” dan harus menyesuaikan dengan hal-hal atau tema-tema yang sedang populer dan laku di pasaran. Jadi kami sejak awal sudah memutuskan untuk menggunakan pendekatan yang berbeda.

Apa yang ingin Anda ubah dengan Little Quokka?

Kami ingin Little Quokka menjadi lebih profesional. Kabar baiknya, kami sekarang telah menjadi perusahaan yang legal secara hukum. Kami berharap Little Quokka akan berkembang dan menjadi pusat untuk rekan-rekan kami yang diberhentikan bekerja karena pandemi.

Menurut Anda, bagaimana digitalisasi akan memengaruhi perkembangan Little Quokka di masa depan?

COVID telah mempercepat digitalisasi, pastinya. Tapi saya sangat yakin bahwa buku anak-anak (hardcopy) masih bisa disimpan sendiri. Karena itu, saya harus mengakui bahwa industri penerbitan tidak menguntungkan – selama pelanggaran hak kekayaan intelektual tetap merajalela tanpa tindakan regulasi yang solid. Meski begitu, saya optimis masih ada ruang untuk pertumbuhan. Sekarang, lebih dari sebelumnya, adalah waktu bagi para pembuat konten untuk memanfaatkan peluang, membuka jalan mereka sendiri untuk benar-benar menjadi milik mereka.

https://www.instagram.com/p/CF1FFwxgdGs/

Saya merasa buku Little Quokka bukan hanya buku yang ingin saya baca, tetapi juga, koleksi. Apakah Anda berencana untuk memproduksinya dalam bahasa lain?

Willa dan Rempah Kesayangan Ibu dan Jajanan Nusantara mengantarkan kami mengenal orang-orang baru. Dari jaringan tersebut, muncul banyak rencana untuk mengerjakan proyek-proyek baru. Harapannya kami bisa mencapai pasar internasional yang lebih luas. Siap-siap, ya!





Apa rencana Anda ke depan untuk Little Quokka?

Tetap ceria dan original, tidak terpengaruh oleh tren di pasaran.

Kata terakhir untuk pembaca di luar sana?

Selalu beli produk asli, dan dukung pembuat lokal.


Leave a Reply

Your email address will not be published.