Menemukan Peran di Tengah Pandemi

Maret 2020, semesta sedang menyiapkan kejutan besar. Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat darurat kesehatan Covid-19, saya justru memulai status baru: pengangguran sekaligus kepala keluarga. Setelah dua kali permohonan pengunduran diri saya ditolak, akhirnya kantor menerimanya tepat di masa krisis itu dimulai.

Enam tahun berkarier di penerbitan mayor dengan posisi stabil di divisi marketing communication buku anak, saya merasa sudah waktunya mengambil jeda. Fokus saya sederhana: keluarga. Saya tak ingin kehilangan lebih banyak waktu berharga bersama istri dan anak karena tuntutan pekerjaan. Rencana matang pun sudah disusun untuk membangun penerbitan sendiri bersama seorang mitra. Namun, sebelum produk pertama lahir, segalanya berantakan. Mitra saya pergi meninggalkan konflik yang hingga kini alasannya tak sepenuhnya saya pahami.

Di tengah kekalutan ekonomi yang kian menghimpit, saya harus segera mencari jalan keluar. Saya mengajak istri untuk menghimpun sisa-sisa energi kami demi melahirkan sebuah buku anak. Membangun penerbitan dengan modal yang sudah minus terasa seperti mimpi yang sangat jauh. Kami akhirnya mencari percikan semangat dari hal yang paling dekat: rumah dan anak kami yang kala itu baru berusia tiga tahun.

Tiga bulan setelah berhenti bekerja, hari-hari kami diisi dengan bermain, berkebun, dan memasak. Ide tentang “rempah” muncul justru dari ketidakmampuan saya membedakan jahe dengan lengkuas, kunyit dengan temulawak, hingga rupa bunga lawang dan kapulaga. Diskusi pun mengalir. Kami menyadari betapa tanaman yang dahulu memikat para penjajah ini—yang menjadi penguat akar budaya nenek moyang—kini justru terasa asing dan disepelekan di negeri sendiri.

Kesadaran itulah yang melahirkan misi kami: mengenalkan kekayaan rempah lokal kepada anak-anak sejak dini. Dari percikan kecil di meja dapur, kami berdua bertekad menyelesaikan karya pertama kami, Willa & Rempah Kesayangan Ibu, lahir di tengah pandemi Juli 2020. Berhasil terjual 5500 eksemplar melalui jaringan reseller dengan metode pre-order. Menjadi bara yang kami jaga hingga kini untuk tetap konsisten mengangkat tema lokal nusantara.